Baru Klinting dan Rawa
Pening
Beberapa hari lalu, saya bersama
teman-teman pergi ke Puncak Sikunir di Desa Sembungan Pegunungan Dieng, Jawa
Tengah. Menjelang dini hari kami mendaki ke puncak Sikunir untuk menanti
rekahnya matahari pagi. Mereka mempromosikan peristiwa tersebut dengan sebutan
"Golden Sunrise"
Untuk menghilangkan hawa dingin yang
menusuk tulang dan agar terhindar dari kebosanan, kami saling bercerita. Tak
terduga, kami membahas mengenai cerita rakyat. Teman saya yang berasal dari
Ambarawa dengan semangat menceritakan ihwal dibalik legenda terjadinya Rawa
Pening.
Menurutnya, legenda Rawa Pening yang
selama ini diketahui masyarakat luas adalah produk Penjajah Belanda. Belanda
kala itu bermaksud membangun sebuah rawa yang mana arealnya akan sampai di
sebuah desa* yang dihuni beberapa kepala keluarga. Untuk membelokkan sejarah
penghilangan desa tersebut, Belanda menyiapkan sebuah cerita yang diceritakan
dari mulut ke mulut yang berkembang sehingga diyakini sebagai asal mula
terjadinya Rawa Pening. Jadi, menurut teman saya itu, Rawa Pening bukan
terbentuk karena peristiwa alam ataupun karena kesaktian Baru Klinthing,
melainkan rawa buatan penjajah Belanda.
Rawa Pening ("pening"
berasal dari "bening") adalah danau sekaligus
tempat wisata air di Kabupaten Semarang. Dengan luas 2.670
ha, rawa ini menempati wilayah Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang dan
Banyubiru. Rawa Pening terletak di cekungan lereng Gunung Merbabu, Gunung
Telomoyo dan Gunung Ungaran.
Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Pernah
menjadi tempat mencari ikan, kini hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup
tanaman eceng gondok. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan
dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam
kerajinan. Namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi.
Rawa ini digemari sebagai obyek wisata pemancingan dan
sarana olahraga air. Namun akhir-akhir ini, perahu nelayan bergerak pun sulit.
Kisah mengenai Naga Baru Klinthing dan awal terjadinya Rawa Pening di
Ambarawa sudah sangat terkenal di masyarakat Indonesia. Kisah ini juga
dibukukan dengan berbagai gaya penceritaan.
Inti kisah Baru Klinthing yang selama ini kita ketahui sebagai berikut:
Tersebutlah sepasang suami istri di Desa
Ngasem (berada di lereng antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo) yang sudah
sekian lama hidup berumah tangga. Mereka berdua saling mencintai dan hidup
bahagia. Sayangnya, sekian lama berumah tangga mereka belum kunjung dikaruniai
seorang anak.
Karena menginginkan seorang anak, sang
suami, Ki Hajar, meminta izin pada istrinya untuk bertapa di Gunung Telomoyo.
Dengan berat hati, Nyai Selakanta mengizinkan suaminya pergi bertapa.
Tak berapa lama setelah kepergian
suaminya, Nyai Selakanta hamil. Dia merasa sangat bahagia atas kehamilannya
tersebut. Ketika tiba waktu melahirkan, Nyai Selakanta sangat terpukul sebab
anak yang dilahirkannya berwujud seekor naga. Dia khawatir dan merasa malu
kepada warga seandainya mereka mengetahui bahwa anaknya bukan berwujud manusia.
Anak yang diberi nama Baru klinthing itu dibesarkan oleh Nyai Selakanta dengan
sembunyi-sembunyi. Nya Selakanta berencana setelah Baru Klinthing besar akan
diasingkannya ke Gunung.
Ketika beranjak besar, Baru Klinthing
menanyakan keberadaan ayahnya. Nyai Selankanta kemudian menyuruh Baru Klinthing
untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Untuk meyakinkan
Ki Hajar, Nyai Selakanta menyerahkan Keris Baru Klinthing milik
suaminya untuk dibawa oleh naga baru Klinthing.
Singkat cerita, Baru Klinthing sampai di
pertapaan Ki Hajar. Untuk semakin meyakinkan bahwa naga itu adalah anaknya, Ki
Hajar memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di Gunung Tugur. Berangkatlah
naga itu ke Gunung Tugur untuk melaksakanan perintah sang ayah.
Ketika sedang bertapa dengan
melingkarkan badannya, datanglah warga dari Desa Pathok yang sedang berburu
binatang untuk acara sedekah bumi. Selama seharian berburu, tidak ada satu pun
binatang berhasil mereka tangkap. Mereka justru menemukan seekor ular raksasa
sedang bertapa melingkarkan tubuhnya. Akhirnya penduduk menangkap Baru
Klinthing dan memotong-motong tubuh ular tersebut.
Ketika wadag ularnya dipotong-potong
penduduk, Baru Klinthing berubah wujud menjadi seorang anak kecil dengan tubuh
penuh kudis berbau sangat amis.
Baru Klinthing yang berwujud seorang
anak kecil itu merasa sangat lapar. Dia kemudian mendatangi penduduk yang
sedang berpesta dengan hidangan daging ular naga. Baru Klinthing mencoba
meminta makanan pada penduduk. Namun dia diusir dan dihina karena penduduk
merasa jijik atas kudisnya yang amis.
Baru Klinthing kemudian ditolong seorang
nenek tua bernama Nyai Latung. Nyai Latung memberinya makan hingga Baru
Klinthing merasa kenyang. Sebagai ungkapan terima kasih, Baru Klinthing
menghadiahkan lesung untuk Nyai Latung. Tak lupa, Baru Klinthing berpesan agar
Nyai Latung naik ke atas lesung jika tiba-tiba terjadi banjir besar.
Berbekal sebuah lidi, Baru Klinthing
kemudian kembali ke perkampungan warga untuk memberi pelajaran pada mereka yang
telah bersikap sombong kepadanya. Begitu lidi ditancapkan di atas tanah, Baru
Klinthing menantang orang-orang untuk mencabutnya. Semula penduduk meremehkan
tantangan tersebut, namun ketika tak ada satu orang pun yang sanggup mencabut
lidi yang tampak rapuh itu, mereka mulai berpikir bahwa Baru Klinthing adalah
seorang anak yang sangat sakti.
Kemudian Baru Klinthing mencabut lidi
yang ditancapkannya. Lidi itu dengan mudah dapat dicabut oleh Baru Klinthing.
Ajaibnya, dari lubang kecil bekas tancapan lidi itu memancar air yang sangat
deras. Orang-orang tidak menyadari bahaya besar sedang mengancam jiwa mereka.
Ternyata air memancar semakin lama semakin besar dan mampu menenggelamkan
seluruh desa. Penduduk tidak dapat menyelamatkan diri. Konon, hanya Nyai Latung
yang selamat bersama Baru Klinthing.
Desa tersebut kemudian berubah menjadi
sebuah telaga yang di kemudian hari dinamakan Rawa Pening.
Demikian cerita rakyat yang selama ini berkembang di masyarakat.
*nama desa belum sempat saya tanyakan lebih detil. :-)
Ditulis oleh ~Akar Atya~