Berawal Dari Kepedulian
Budaya pitutur lisan mulai luntur di tengah-tengah
masyarakat kita, bahkan hampir punah. Para penutur cerita rakyat sebagian besar
sudah berusia sangat tua. Ketika generasi yang sudah sangat sepuh ini
tidak lagi menuturkan cerita rakyat-cerita rakyat yang ada, kelak anak
keturunan kita tidak akan pernah mengetahui cerita-cerita mengagumkan yang
pernah ada di wilayahnya.
Alangkah memprihatinkan ketika kelak generasi penerus
kita tidak mengenal tokoh-tokoh lokalnya sendiri. Mereka tidak lagi mengenal kisah-kisah
heroik nenek moyang warga Pekalongan. Semakin ironis jika mereka justru akan
mengagumi para tokoh dan dongeng dari daerah lain dan buta betapa nenek moyang warga
Pekalongan juga tidak kalah hebatnya. Mereka mengenal sosok Sultan Agung, namun
tidak mengenal sosok Joko Bahu, pemuda sakti yang berhasil membabat hutan
Gambiran dan di kemudian waktu berkembang menjadi Kabupaten Pekalongan. Pemuda
yang ikut berkiprah menyerang VOC Belanda di Batavia. Sosok pemuda ini tidak
banyak diceritakan dalam buku-buku pelajaran di sekolah, sosoknya tenggelam
oleh pesona Sultan Agung Hanyokrokusumo yang melegenda.
Sejauh ini, belum ada satupun buku kumpulan cerita
rakyat di Kabupaten Pekalongan yang tersusun dan dapat dinikmati seluruh
lapisan masyarakat. Untuk itulah, kami berusaha
melakukan penyusunan naskah-naskah cerita rakyat yang ada di Kabupaten
Pekalongan dari berbagai sumber untuk menjadi sebuah buku.
Penyusunan naskah cerita rakyat yang tersebar hampir di
seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan ini tidak mungkin dapat dilakukan dalam
waktu singkat tanpa melibatkan kontributor penulis-penulis setempat. Langkah
awal yang kami lakukan adalah dengan mengadakan serangkaian workshop penulisan
bagi anak-anak SMA/SMK se-Kabupaten Pekalongan. Setelah itu, anak-anak tersebut
dirangkul untuk dapat menyumbangkan naskah cerita rakyat yang dikemas dalam
bentuk lomba menulis.
Antusiasme anak-anak SMA/SMK ini ternyata sangat di
luar dugaan. Dari periode Maret s/d 25 April 2015, tercatat ada 72 naskah
cerita rakyat yang masuk ke tim kami. Kami percaya, antusiasme siswa ini
tidak lepas dari peran serta para guru pendamping – baik guru Bahasa Indonesia,
guru Sejarah maupun Kepala Sekolah – yang terus mendorong siswanya untuk ikut
berpartisipasi. Tanpa dorongan semangat dari mereka, mungkin naskah yang
masuk ke tim kami tidak akan sebanyak itu.
Yang sangat membahagiakan lagi, ternyata hampir seluruh
naskah mengambil tokoh atau latar/tempat yang berbeda. Hanya ada satu dua yang
latar/tempatnya sama. Dan, hampir seluruh peserta lomba adalah anak asli
Kabupaten Pekalongan. Hal ini menggambarkan betapa kreativitas remaja-remaja di
Kabupaten Pekalongan ini dapat diacungi jempol. Jika dibina dengan lebih
intensif, bukan tidak mungkin ke depan akan muncul penulis-penulis handal dari
Kabupaten Pekalongan yang akan dikenal hingga ke pelosok Indonesia ataupun di
pentas dunia. Di pundak merekalah, cerita-cerita heroik yang pernah ada di
Kabupaten Pekalongan akan dikenal masyarakat luas.
Poin amanat cerita sangat kami pertimbangkan dalam
naskah. Harapannya, cerita rakyat-cerita rakyat yang masuk menggambarkan sebuah
nilai luhur yang layak diambil hikmahnya oleh khalayak pembaca. Sekaligus
memperkenalkan budaya adiluhung yang ada di Kabupaten Pekalongan.
Saking banyaknya naskah yang masuk dan kualitas
penulisan para siswa yang bagus-bagus membuat tim kami sempat kesulitan
menentukan naskah-naskah terbaik. Namun, keputusan tetap harus diambil dan
naskah-naskah yang terbaik dari naskah-naskah terbaik harus kami pilih untuk
mendapatkan apresiasi yang selayaknya.
Naskah-naskah kami pilih dan penulisnya kemudian kami hubungi untuk mengirimkan profil singkat mereka. Setelah kami olah secukupnya, kumpulan naskah cerita rakyat dari Kabupaten Pekalongan itu kami tawarkan ke penerbit. Pada awal Juni 2015, sebuah penerbit besar di Indonesia menyatakan kesediaan untuk menerbitkan naskah kami. Naskah siap dibukukan. Bismillah.
~Akar Atya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar