Senin, 08 Juni 2015

Berawal Dari Kepedulian

Budaya pitutur lisan mulai luntur di tengah-tengah masyarakat kita, bahkan hampir punah. Para penutur cerita rakyat sebagian besar sudah berusia sangat tua. Ketika generasi yang sudah sangat sepuh ini tidak lagi menuturkan cerita rakyat-cerita rakyat yang ada, kelak anak keturunan kita tidak akan pernah mengetahui cerita-cerita mengagumkan yang pernah ada di wilayahnya.
Alangkah memprihatinkan ketika kelak generasi penerus kita tidak mengenal tokoh-tokoh lokalnya sendiri. Mereka tidak lagi mengenal kisah-kisah heroik nenek moyang warga Pekalongan. Semakin ironis jika mereka justru akan mengagumi para tokoh dan dongeng dari daerah lain dan buta betapa nenek moyang warga Pekalongan juga tidak kalah hebatnya. Mereka mengenal sosok Sultan Agung, namun tidak mengenal sosok Joko Bahu, pemuda sakti yang berhasil membabat hutan Gambiran dan di kemudian waktu berkembang menjadi Kabupaten Pekalongan. Pemuda yang ikut berkiprah menyerang VOC Belanda di Batavia. Sosok pemuda ini tidak banyak diceritakan dalam buku-buku pelajaran di sekolah, sosoknya tenggelam oleh pesona Sultan Agung Hanyokrokusumo yang melegenda.
Sejauh ini, belum ada satupun buku kumpulan cerita rakyat di Kabupaten Pekalongan yang tersusun dan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Untuk itulah, kami  berusaha melakukan penyusunan naskah-naskah cerita rakyat yang ada di Kabupaten Pekalongan dari berbagai sumber untuk menjadi sebuah buku.
Penyusunan naskah cerita rakyat yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan ini tidak mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat tanpa melibatkan kontributor penulis-penulis setempat. Langkah awal yang kami lakukan adalah dengan mengadakan serangkaian workshop penulisan bagi anak-anak SMA/SMK se-Kabupaten Pekalongan. Setelah itu, anak-anak tersebut dirangkul untuk dapat menyumbangkan naskah cerita rakyat yang dikemas dalam bentuk lomba menulis.
Antusiasme anak-anak SMA/SMK ini ternyata sangat di luar dugaan. Dari periode Maret s/d 25 April 2015, tercatat ada 72 naskah cerita rakyat yang masuk ke tim kami. Kami percaya, antusiasme siswa ini tidak lepas dari peran serta para guru pendamping – baik guru Bahasa Indonesia, guru Sejarah maupun Kepala Sekolah – yang terus mendorong siswanya untuk ikut berpartisipasi. Tanpa dorongan semangat dari mereka, mungkin naskah yang masuk ke tim kami tidak akan sebanyak itu.
Yang sangat membahagiakan lagi, ternyata hampir seluruh naskah mengambil tokoh atau latar/tempat yang berbeda. Hanya ada satu dua yang latar/tempatnya sama. Dan, hampir seluruh peserta lomba adalah anak asli Kabupaten Pekalongan. Hal ini menggambarkan betapa kreativitas remaja-remaja di Kabupaten Pekalongan ini dapat diacungi jempol. Jika dibina dengan lebih intensif, bukan tidak mungkin ke depan akan muncul penulis-penulis handal dari Kabupaten Pekalongan yang akan dikenal hingga ke pelosok Indonesia ataupun di pentas dunia. Di pundak merekalah, cerita-cerita heroik yang pernah ada di Kabupaten Pekalongan akan dikenal masyarakat luas.
Poin amanat cerita sangat kami pertimbangkan dalam naskah. Harapannya, cerita rakyat-cerita rakyat yang masuk menggambarkan sebuah nilai luhur yang layak diambil hikmahnya oleh khalayak pembaca. Sekaligus memperkenalkan budaya adiluhung yang ada di Kabupaten Pekalongan.

Saking banyaknya naskah yang masuk dan kualitas penulisan para siswa yang bagus-bagus membuat tim kami sempat kesulitan menentukan naskah-naskah terbaik. Namun, keputusan tetap harus diambil dan naskah-naskah yang terbaik dari naskah-naskah terbaik harus kami pilih untuk mendapatkan apresiasi yang selayaknya. 
Naskah-naskah kami pilih dan penulisnya kemudian kami hubungi untuk mengirimkan profil singkat mereka. Setelah kami olah secukupnya, kumpulan naskah cerita rakyat dari Kabupaten Pekalongan itu kami tawarkan ke penerbit. Pada awal Juni 2015, sebuah penerbit besar di Indonesia menyatakan kesediaan untuk menerbitkan naskah kami. Naskah siap dibukukan. Bismillah.
~Akar Atya~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar