Selasa, 23 Juni 2015

Baru Klinting dan Rawa Pening

Beberapa hari lalu, saya bersama teman-teman pergi ke Puncak Sikunir di Desa Sembungan Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Menjelang dini hari kami mendaki ke puncak Sikunir untuk menanti rekahnya matahari pagi. Mereka mempromosikan peristiwa tersebut dengan sebutan "Golden Sunrise"
Untuk menghilangkan hawa dingin yang menusuk tulang dan agar terhindar dari kebosanan, kami saling bercerita. Tak terduga, kami membahas mengenai cerita rakyat. Teman saya yang berasal dari Ambarawa dengan semangat menceritakan ihwal dibalik legenda terjadinya Rawa Pening.
Menurutnya, legenda Rawa Pening yang selama ini diketahui masyarakat luas adalah produk Penjajah Belanda. Belanda kala itu bermaksud membangun sebuah rawa yang mana arealnya akan sampai di sebuah desa* yang dihuni beberapa kepala keluarga. Untuk membelokkan sejarah penghilangan desa tersebut, Belanda menyiapkan sebuah cerita yang diceritakan dari mulut ke mulut yang berkembang sehingga diyakini sebagai asal mula terjadinya Rawa Pening. Jadi, menurut teman saya itu, Rawa Pening bukan terbentuk karena peristiwa alam ataupun karena kesaktian Baru Klinthing, melainkan rawa buatan penjajah Belanda. 

Rawa Pening ("pening" berasal dari "bening") adalah danau sekaligus tempat wisata air di Kabupaten Semarang. Dengan luas 2.670 ha, rawa ini menempati wilayah Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru. Rawa Pening terletak di cekungan lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. 


Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Pernah menjadi tempat mencari ikan, kini hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup tanaman eceng gondok. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam kerajinan. Namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi.
Rawa ini digemari sebagai obyek wisata pemancingan dan sarana olahraga air. Namun akhir-akhir ini, perahu nelayan bergerak pun sulit.
Kisah mengenai Naga Baru Klinthing dan awal terjadinya Rawa Pening di Ambarawa sudah sangat terkenal di masyarakat Indonesia. Kisah ini juga dibukukan dengan berbagai gaya penceritaan.
Inti kisah Baru Klinthing yang selama ini kita ketahui sebagai berikut:

Tersebutlah sepasang suami istri di Desa Ngasem (berada di lereng antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo) yang sudah sekian lama hidup berumah tangga. Mereka berdua saling mencintai dan hidup bahagia. Sayangnya, sekian lama berumah tangga mereka belum kunjung dikaruniai seorang anak. 
Karena menginginkan seorang anak, sang suami, Ki Hajar, meminta izin pada istrinya untuk bertapa di Gunung Telomoyo. Dengan berat hati, Nyai Selakanta mengizinkan suaminya pergi bertapa.
Tak berapa lama setelah kepergian suaminya, Nyai Selakanta hamil. Dia merasa sangat bahagia atas kehamilannya tersebut. Ketika tiba waktu melahirkan, Nyai Selakanta sangat terpukul sebab anak yang dilahirkannya berwujud seekor naga. Dia khawatir dan merasa malu kepada warga seandainya mereka mengetahui bahwa anaknya bukan berwujud manusia. Anak yang diberi nama Baru klinthing itu dibesarkan oleh Nyai Selakanta dengan sembunyi-sembunyi. Nya Selakanta berencana setelah Baru Klinthing besar akan diasingkannya ke Gunung.
Ketika beranjak besar, Baru Klinthing menanyakan keberadaan ayahnya. Nyai Selankanta kemudian menyuruh Baru Klinthing untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Untuk meyakinkan Ki Hajar, Nyai Selakanta menyerahkan Keris Baru Klinthing milik suaminya untuk dibawa oleh naga baru Klinthing.
Singkat cerita, Baru Klinthing sampai di pertapaan Ki Hajar. Untuk semakin meyakinkan bahwa naga itu adalah anaknya, Ki Hajar memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di Gunung Tugur. Berangkatlah naga itu ke Gunung Tugur untuk melaksakanan perintah sang ayah.
Ketika sedang bertapa dengan melingkarkan badannya, datanglah warga dari Desa Pathok yang sedang berburu binatang untuk acara sedekah bumi. Selama seharian berburu, tidak ada satu pun binatang berhasil mereka tangkap. Mereka justru menemukan seekor ular raksasa sedang bertapa melingkarkan tubuhnya. Akhirnya penduduk menangkap Baru Klinthing dan memotong-motong tubuh ular tersebut.
Ketika wadag ularnya dipotong-potong penduduk, Baru Klinthing berubah wujud menjadi seorang anak kecil dengan tubuh penuh kudis berbau sangat amis.
Baru Klinthing yang berwujud seorang anak kecil itu merasa sangat lapar. Dia kemudian mendatangi penduduk yang sedang berpesta dengan hidangan daging ular naga. Baru Klinthing mencoba meminta makanan pada penduduk. Namun dia diusir dan dihina karena penduduk merasa jijik atas kudisnya yang amis.
Baru Klinthing kemudian ditolong seorang nenek tua bernama Nyai Latung. Nyai Latung memberinya makan hingga Baru Klinthing merasa kenyang. Sebagai ungkapan terima kasih, Baru Klinthing menghadiahkan lesung untuk Nyai Latung. Tak lupa, Baru Klinthing berpesan agar Nyai Latung naik ke atas lesung jika tiba-tiba terjadi banjir besar.
Berbekal sebuah lidi, Baru Klinthing kemudian kembali ke perkampungan warga untuk memberi pelajaran pada mereka yang telah bersikap sombong kepadanya. Begitu lidi ditancapkan di atas tanah, Baru Klinthing menantang orang-orang untuk mencabutnya. Semula penduduk meremehkan tantangan tersebut, namun ketika tak ada satu orang pun yang sanggup mencabut lidi yang tampak rapuh itu, mereka mulai berpikir bahwa Baru Klinthing adalah seorang anak yang sangat sakti.
Kemudian Baru Klinthing mencabut lidi yang ditancapkannya. Lidi itu dengan mudah dapat dicabut oleh Baru Klinthing. Ajaibnya, dari lubang kecil bekas tancapan lidi itu memancar air yang sangat deras. Orang-orang tidak menyadari bahaya besar sedang mengancam jiwa mereka. Ternyata air memancar semakin lama semakin besar dan mampu menenggelamkan seluruh desa. Penduduk tidak dapat menyelamatkan diri. Konon, hanya Nyai Latung yang selamat bersama Baru Klinthing.
Desa tersebut kemudian berubah menjadi sebuah telaga yang di kemudian hari dinamakan Rawa Pening.

Demikian cerita rakyat yang selama ini berkembang di masyarakat.
*nama desa belum sempat saya tanyakan lebih detil. :-)
**Foto dari www.wikipedia.com  

Ditulis oleh ~Akar Atya~


Senin, 08 Juni 2015

Berawal Dari Kepedulian

Budaya pitutur lisan mulai luntur di tengah-tengah masyarakat kita, bahkan hampir punah. Para penutur cerita rakyat sebagian besar sudah berusia sangat tua. Ketika generasi yang sudah sangat sepuh ini tidak lagi menuturkan cerita rakyat-cerita rakyat yang ada, kelak anak keturunan kita tidak akan pernah mengetahui cerita-cerita mengagumkan yang pernah ada di wilayahnya.
Alangkah memprihatinkan ketika kelak generasi penerus kita tidak mengenal tokoh-tokoh lokalnya sendiri. Mereka tidak lagi mengenal kisah-kisah heroik nenek moyang warga Pekalongan. Semakin ironis jika mereka justru akan mengagumi para tokoh dan dongeng dari daerah lain dan buta betapa nenek moyang warga Pekalongan juga tidak kalah hebatnya. Mereka mengenal sosok Sultan Agung, namun tidak mengenal sosok Joko Bahu, pemuda sakti yang berhasil membabat hutan Gambiran dan di kemudian waktu berkembang menjadi Kabupaten Pekalongan. Pemuda yang ikut berkiprah menyerang VOC Belanda di Batavia. Sosok pemuda ini tidak banyak diceritakan dalam buku-buku pelajaran di sekolah, sosoknya tenggelam oleh pesona Sultan Agung Hanyokrokusumo yang melegenda.
Sejauh ini, belum ada satupun buku kumpulan cerita rakyat di Kabupaten Pekalongan yang tersusun dan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Untuk itulah, kami  berusaha melakukan penyusunan naskah-naskah cerita rakyat yang ada di Kabupaten Pekalongan dari berbagai sumber untuk menjadi sebuah buku.
Penyusunan naskah cerita rakyat yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan ini tidak mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat tanpa melibatkan kontributor penulis-penulis setempat. Langkah awal yang kami lakukan adalah dengan mengadakan serangkaian workshop penulisan bagi anak-anak SMA/SMK se-Kabupaten Pekalongan. Setelah itu, anak-anak tersebut dirangkul untuk dapat menyumbangkan naskah cerita rakyat yang dikemas dalam bentuk lomba menulis.
Antusiasme anak-anak SMA/SMK ini ternyata sangat di luar dugaan. Dari periode Maret s/d 25 April 2015, tercatat ada 72 naskah cerita rakyat yang masuk ke tim kami. Kami percaya, antusiasme siswa ini tidak lepas dari peran serta para guru pendamping – baik guru Bahasa Indonesia, guru Sejarah maupun Kepala Sekolah – yang terus mendorong siswanya untuk ikut berpartisipasi. Tanpa dorongan semangat dari mereka, mungkin naskah yang masuk ke tim kami tidak akan sebanyak itu.
Yang sangat membahagiakan lagi, ternyata hampir seluruh naskah mengambil tokoh atau latar/tempat yang berbeda. Hanya ada satu dua yang latar/tempatnya sama. Dan, hampir seluruh peserta lomba adalah anak asli Kabupaten Pekalongan. Hal ini menggambarkan betapa kreativitas remaja-remaja di Kabupaten Pekalongan ini dapat diacungi jempol. Jika dibina dengan lebih intensif, bukan tidak mungkin ke depan akan muncul penulis-penulis handal dari Kabupaten Pekalongan yang akan dikenal hingga ke pelosok Indonesia ataupun di pentas dunia. Di pundak merekalah, cerita-cerita heroik yang pernah ada di Kabupaten Pekalongan akan dikenal masyarakat luas.
Poin amanat cerita sangat kami pertimbangkan dalam naskah. Harapannya, cerita rakyat-cerita rakyat yang masuk menggambarkan sebuah nilai luhur yang layak diambil hikmahnya oleh khalayak pembaca. Sekaligus memperkenalkan budaya adiluhung yang ada di Kabupaten Pekalongan.

Saking banyaknya naskah yang masuk dan kualitas penulisan para siswa yang bagus-bagus membuat tim kami sempat kesulitan menentukan naskah-naskah terbaik. Namun, keputusan tetap harus diambil dan naskah-naskah yang terbaik dari naskah-naskah terbaik harus kami pilih untuk mendapatkan apresiasi yang selayaknya. 
Naskah-naskah kami pilih dan penulisnya kemudian kami hubungi untuk mengirimkan profil singkat mereka. Setelah kami olah secukupnya, kumpulan naskah cerita rakyat dari Kabupaten Pekalongan itu kami tawarkan ke penerbit. Pada awal Juni 2015, sebuah penerbit besar di Indonesia menyatakan kesediaan untuk menerbitkan naskah kami. Naskah siap dibukukan. Bismillah.
~Akar Atya~

Selasa, 02 Juni 2015


Mendongeng Pekalongan

Moyang kita di Tanah Nusantara adalah orang-orang hebat dengan ketokohan mendunia kala itu. Hingga kemudian bangsa penjajah datang menjarah. Bangsa yang sangat besar dikerdilkan sebagai bangsa jajahan kelas bawah. Bangsa penjajah selama beratus-ratus tahun konon berusaha menghilangkan bukti-bukti kejayaan masa lalu bangsa Nusantara, hingga anak keturunan pribumi menjadi buta siapa sejatinya mereka. 
Kejayaan masa lalu para moyang yang adiluhung menjadi dongeng yang sebagian diragukan kebenarannya. Mungkin saja, dongeng akan menghibur sebagian dari kita betapa pada masa lalu kita adalah bangsa yang besar dan disegani hingga mancanegara. Kejayaan moyang di masa lalu adalah fakta sejarah yang bukti dukungnya terus digali. Kisah-kisah tentang moyang kita terus hidup karena diceritakan turun temurun melalui budaya lisan dari generasi ke generasi.
Budaya pitutur lisan belakangan ini mulai menghilang, mungkin saja sebentar lagi akan punah. Tergerus kemajuan teknologi yang memudahkan manusia mengakses berbagai kisah dengan lebih mudah melalui internet dan gadget super canggih. Orang tua semakin jarang bercerita pada anak-anak mereka sebagai pengantar tidur. 
Kita perlu melestarikan budaya lisan yang pernah hidup di tengah masyarakat Nusantara dengan segala lekuk beluknya. Kita perlu menyebarluaskan kisah-kisah yang belum pernah tersentuh budaya teks dan menghadirkannya untuk masyarakat Nusantara. Semoga bermanfaat.

Pekalongan, 2 Juni 2015

Tabik,

Akar Atya